Mukjizat yang Hidup: Merasakan Keagungan Al-Qur’an dalam Kehidupan

Al Qur'an adalah mu'jizat agung yang diberikan kepada Nabi Muhammad Saw.

اقْرَؤُوا القُرْآنَ فإنَّه يَأْتي يَومَ القِيامَةِ شَفِيعًا لأَصْحابِه

“Bacalah oleh kalian Al-Qur'an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat (penolong) bagi para sahabatnya (orang yang rajin membaca dan mengamalkannya).”

إنَّ الْبَيْتَ لَيَتَّسِعُ عَلَى أَهْلِهِ وَتَحْضُرُهُ الْمَلَائِكَةُ وَتَهْجُرُهُ الشَّيَاطِينُ وَيَكْثُرُ خَيْرُهُ أَنْ يُقْرَأَ فِيهِ الْقُرْآنُ 

“Rumah yang dibacakan Al-Qur'an di dalamnya akan terasa lebih lapang, dihadiri malaikat, ditinggal pergi oleh setan, dan dilimpahi banyak kebaikan.”

Perjuangan Al-Qur'an tidak hanya dengan membaca Al-Qur'an di waktu luang, tetapi juga meluangkan waktu untuk selalu membaca Al-Qur'an.

Dalam tafsir Mafâtihul Ghaib, al-Imam Fakhruddin ar-Razy menyebutkan:

الدنيا بستان زينت بخمسة أشياء: علم العلماء وعدل الأمراء وعبادة العباد وأمانة التجار ونصيحة المحترفين. فجاء إبليس بخمسة أعلام فأقامها بجنب هذه الخمس جاء بالحسد فركزه في جنب العلم، وجاء بالجور فركزه بجنب العدل، وجاء بالرياء فركزه بجنب العبادة، وجاء بالخيانة فركزها بجنب الأمانة، وجاء بالغش فركزه بجنب النصيحة 

Dunia ini bagai taman yang dihiasi lima macam perkara, yaitu:

  1. Ilmunya para ulama, 
  2. Keadilan para penguasa, 
  3. Ibadahnya para hamba, 
  4. Amanahnya para pedagang, dan
  5. Nasehat kalangan profesional. 

Lalu datanglah Iblis membawa lima bendera yang ia tancapkan di samping lima perkara tadi, yaitu:

  1. Kedengkian ia tancapkan di samping ilmu, 
  2. Kelaliman ia tancapkan di samping keadilan, 
  3. Riya' ia tancapkan di samping ibadah, 
  4. Khianat ia tancapkan di samping amanah, dan
  5. Kecurangan ia tancapkan di samping nasehat.

Dunia atau negara bagai taman yang indah apabila dihiasi dengan kesatuan lima perkara tersebut. Namun iblis tidak akan tidak tinggal diam, dan datang membawa lima panji/bendera.

Ilmunya Para Ulama vs  Bendera Hasud.

Ilmunya para ulama' bisa menjadi cahaya. Namun ilmunya ulama ini juga bisa roboh. Dimana rusaknya ulama' ini bukan karena hilangnya ilmu, tetapi karena ditancapkannya bendera hasud oleh iblis di dada ulama. Karena cita-cita iblis adalah menancapkan kedengkian disisi ilmu para ulama.

Semua penyakit atau perselisihan dapat diselesaikan asal tidak dibarengi dengan hasud. Rasa iri dan dengki. Maka di dalam berorganisasi di JMQH diharapkan jangan sampai ada rasa saling iri dengki, apalagi berebut ingin menjadi pengurus.

Perselisihan jika dibarengi dengan hasud, maka sampai kapanpun tidak akan selesai.

Keadilan para penguasa Vs Bendera Kezaliman.

Pemimpin yang adil bisa mengayomi anggotanya, presiden yang adil bisa mengayomi rakyatnya. 

Pemimpin yang adil, doanya mustajab.

Namun iblis juga datang membawa bendera kezaliman disisi keadilan para pemimpin untuk merusak para pemimpin yang adil. Pemimpin yang adil bisa rusak karena digoda dengan tahta, harta, dan wanita.

Ibadahnya Para Ahli Ibadah Vs Bendera Riya'.

Manusia diciptakan oleh Allah swt diperintahkan untuk beribadah.

Jangan sampai kita teledor dalam beribadah, bik ibadah wajib maupun ibadah sunah.

Iblis juga datang kepada para ahli ibadah dengan membawa bendera riya' (pamer). Maka berhati-hatilah. Tata niat dengan baik dalam beribadah.

Jika kau ingin tahu nilai dirimu, maka lihatlah apa yang kau kejar.

Amanahnya Pedagang vs Bendera Khiyanat

Amanah atau dapat dipercaya adalah tanda orang yang jujur. 

Iblis juga datang kepada pedagang, pengusaha, atau pembisnis yang jujur ini dengan membawa bendera khianat untuk merusaknya. Iblis senang jika para pedagang atau pengusaha menjadi tidak jujur. 

Nasihat Orang yang Ahli di Bidangnya vs Bendera Kecurangan

Orang menasehati juga akan rusak jika melenceng dari keahliannya.

Kembali ke pokok permasalahan bahwa, dunia itu diibaratkan bagaikan kebun. Maka tanamilah kebun ini dengan kebaikan. Sebagai orang berilmu, sebarkanlah warisan nabi dan takutlah kepada Allah. Sebagai penguasa, berbuat adil lah agar dicintai Allah dan dicintai rakyat. Sebagai hamba Allah, ikhlaskanlah niat dalam beribadah. Sebagai pengusaha, jujurlah dalam berusaha dan distribusikan sebagian rezeki yang didapat di jalan Allah. Sebagai profesional, disiplinlah dalam bekerja. Maka, dunia akan indah dipandang dan dirasakan.

Disarikan dari Mau'idzoh Hasanah Ibu Ny. Hj. Handariyatul Masruroh 

Ditulis oleh: Siti M. Maghfiroh, anggota JMQH Banyuwangi


0 Comments