Al-Qur’an sebagai Pedoman Hidup dan Sumber Keteladanan

 


Al-Qur’an tidak diturunkan hanya untuk dibaca secara lisan, tetapi untuk direnungi dan dijadikan pedoman hidup. Allah SWT menegaskan tujuan utama turunnya Al-Qur’an dalam firman-Nya:

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
“Ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.” (QS. Shad: 29)

Ayat ini menegaskan bahwa keberkahan Al-Qur’an terletak pada proses tadabbur dan pengamalan. Oleh karena itu, kisah-kisah yang diabadikan dalam Al-Qur’an, termasuk kisah perempuan, bukan sekadar cerita sejarah, melainkan sumber nilai dan teladan yang relevan sepanjang zaman. Di tengah krisis figur keteladanan perempuan masa kini, Al-Qur’an menghadirkan sosok-sosok perempuan mulia yang menjadi rujukan karakter muslimah sejati.

1. Sayyidah Asiyah: Teladan Keteguhan Iman di Tengah Lingkungan Kufur

Salah satu figur perempuan terbesar dalam Al-Qur’an adalah Sayyidah Asiyah, istri Fir’aun. Allah menjadikannya contoh bagi orang-orang beriman melalui firman-Nya:

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ آمَنُوا امْرَأَتَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

“Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, yaitu istri Fir’aun, ketika ia berkata: ‘Wahai Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu di dalam surga, selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, serta selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.”(QS. At-Tahrim: 11)

Ayat ini menunjukkan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh lingkungan atau pasangan hidupnya, melainkan oleh keimanan dan keteguhan prinsipnya. Sayyidah Asiyah hidup bersama penguasa paling zalim yang bahkan mengaku sebagai tuhan, namun ia tetap bertauhid dan tidak tunduk kepada kekafiran.

Doa Sayyidah Asiyah juga mengandung pelajaran penting. Ia mendahulukan permohonan “di sisi-Mu” sebelum menyebut “rumah di surga”. Ini menunjukkan bahwa kedekatan dengan Allah lebih utama daripada kenikmatan materi. Dari sini lahir pelajaran penting tentang urgensi memilih lingkungan yang baik dan memprioritaskan nilai spiritual dalam kehidupan.

2. Putri Nabi Syu’aib: Keteladanan Rasa Malu dan Kehormatan Diri

Al-Qur’an juga mengabadikan kisah putri Nabi Syu’aib yang kelak menjadi istri Nabi Musa ‘alaihis salam. Allah menggambarkan sosok ini dengan karakter utama berupa rasa malu:
فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ
“Kemudian datanglah kepadanya salah seorang dari kedua perempuan itu berjalan dengan penuh rasa malu.” (QS. Al-Qashash: 25)

Menariknya, Al-Qur’an tidak menonjolkan kecantikan atau status sosialnya, melainkan akhlaknya. Ini menunjukkan bahwa rasa malu adalah perhiasan utama perempuan dan bagian dari iman. Malu berfungsi sebagai benteng moral yang menjaga kehormatan diri dari perilaku yang menyimpang.

Kisah ini juga memberikan pemahaman bahwa perempuan boleh bekerja di luar rumah, sebagaimana dijelaskan dalam ayat sebelumnya:

وَلَمَّا وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِنْ دُونِهِمُ امْرَأَتَيْنِ تَذُودَانِ
“Ketika Musa sampai di sumber air negeri Madyan, dia mendapati sekumpulan orang sedang memberi minum ternak, dan dia mendapati dua orang perempuan yang sedang menahan ternaknya.”(QS. Al-Qashash: 23)

Ayat ini menjadi dasar bahwa perempuan dapat berperan di ruang publik selama menjaga adab, keamanan, dan nilai syariat. Islam tidak membatasi ruang gerak perempuan, tetapi mengaturnya agar tetap sejalan dengan fitrah dan kehormatan.

3. Ratu Bilqis: Kepemimpinan, Kecerdasan, dan Musyawarah

Figur perempuan lain yang diabadikan Al-Qur’an adalah Ratu Bilqis, pemimpin negeri Saba’. Ketika menerima surat dari Nabi Sulaiman ‘alaihis salam, ia tidak bersikap emosional atau gegabah, melainkan mengedepankan musyawarah:

قَالَتْ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ أَفْتُونِي فِي أَمْرِي مَا كُنْتُ قَاطِعَةً أَمْرًا حَتَّى تَشْهَدُونِ
“Wahai para pembesar, berilah aku pertimbangan dalam urusanku. Aku tidak pernah memutuskan suatu perkara sebelum kalian hadir.” (QS. An-Naml: 32)

Sikap ini menunjukkan kecerdasan kepemimpinan, kebijaksanaan dalam mengambil keputusan, serta kepedulian terhadap rakyat. Kepemimpinan yang ideal bukanlah kepemimpinan yang otoriter, melainkan yang melibatkan musyawarah dan pertimbangan bersama.

Ketika kebenaran telah jelas, Ratu Bilqis tidak mempertahankan ego kekuasaan, melainkan tunduk kepada Allah:
قَالَتْ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي وَأَسْلَمْتُ مَعَ سُلَيْمَانَ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Ya Tuhanku, sungguh aku telah menzalimi diriku sendiri, dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS. An-Naml: 44)

Ayat ini menunjukkan bahwa kecerdasan sejati melahirkan kerendahan hati. Ilmu yang benar akan mengantarkan seseorang kepada kebenaran, bukan kepada kesombongan.

4. Relevansi Teladan Perempuan Al-Qur’an bagi Muslimah Masa Kini

Dari ketiga sosok ini, Al-Qur’an memberikan gambaran utuh tentang karakter muslimah ideal. Sayyidah Asiyah mengajarkan keteguhan iman, putri Nabi Syu’aib mengajarkan akhlak dan rasa malu, sementara Ratu Bilqis mengajarkan kecerdasan, kepemimpinan, dan kebijaksanaan.

Perempuan dalam Islam tidak diposisikan sebagai objek, melainkan sebagai subjek peradaban. Perempuan adalah pendidik generasi, pemimpin dalam keluarga, dan bagian penting dalam pembangunan masyarakat. Semua peran ini membutuhkan bekal ilmu, iman, dan akhlak.

Ilmu menjadi kebutuhan akal sebagaimana makanan menjadi kebutuhan jasmani. Tanpa ilmu, seseorang akan mudah terseret arus zaman. Dengan ilmu, perempuan mampu menjalankan peran ganda—sebagai istri, ibu, pendidik, dan anggota masyarakat—secara seimbang dan bertanggung jawab.

Penutup: Al-Qur’an sebagai Sumber Pembentukan Karakter Muslimah

Al-Qur’an mengajarkan bahwa kemuliaan perempuan tidak terletak pada popularitas, status sosial, atau pengakuan manusia, tetapi pada iman, ilmu, dan akhlak. Dengan menjadikan kisah-kisah perempuan teladan dalam Al-Qur’an sebagai cermin, diharapkan lahir generasi muslimah yang kuat secara spiritual, matang secara intelektual, dan luhur dalam akhlak, sehingga mampu menjadi cahaya bagi keluarga, masyarakat, dan peradaban Islam.

Oleh: Ning Hj. Atina Balqis Iskandar, Lc., MA. (Devisi Pendidikan JMQH Banyuwangi & Pengasuh pondok Pesantren Darussalam Blokagung)

0 Comments